Menteri KLH : Hidupkan Kearifan Lokal Danau Limboto

Menteri KLH : Hidupkan Kearifan Lokal Danau Limboto

2016082720160113siti-nurbaya-bakar

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI, Siti Nurbaya Bakar mengatakan kearifan lokal di Danau Limboto Provinsi Gorontalo harus dihidupkan kembali, sebagai salah satu langkah memulihkan kondisi danau.

“Misalnya upacara panen ikan bersama, juga aturan-aturan atau kearifan lokal yang bisa sejatinya bertujuan untuk melindungi danau ini,” ujarnya di Gorontalo, Senin.

Menurut Menteri upaya konservasi pada suatu kawasan sudah saatnya menggunakan dimensi lain, yakni nilai-nilai keluhuran dalam masyarakat yang ada dalam kearifan lokal.

Tak hanya efektif, pengetahuan tersebut akan terawat dari satu generasi ke generasi selanjutnya karena manusia adalah elemen penting dalam pembentukan bentang alam.

Ia juga menyoroti penurunan kualitas Danau Limboto, meskipun ia mendapat laporan telah dilakukan upaya perbaikan secara bertahap.

“Saya akan ikuti terus perkembangan tentang danau ini dan mendorong upaya konservasi,” imbuhnya.

Dia menambahkan pembangunan di perbukitan, harus dikombinasikan antara tanaman pangan dan kayu serta peran dalam pemulihan hutan sosial yang ada.

Lebih lanjut ia menilai faktor kepemimpinan di daerah akan sangat berpengaruh pada konsep pembangunan berwawasan lingkungan di suatu daerah.

Berdasarkan data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), luas Danau Limboto sampai tahun 2007 sebesar 2.537,15 hektare, dengan kedalaman sekitar 2,5 m sedangkan luas daerah tangkapan air sekitar 900 km2.

Pada tahun 1932 rata-rata kedalaman Danau Limboto 30 meter dengan luas 7.000 hektare, dan tahun 1961 rata-rata kedalaman Danau berkurang menjadi 10 meter dan luas menjadi 4.250 hektare.

Pada tahun 2003, luasnya berkurang menjadi 3.054 hektare dengan kedalaman 4 meter.

Perubahan signifikan terjadi pada tahun 2014 dengan luas danau tersisa 2.537 hektare dan kedalamannya 2-2,5 meter.

Di danau ini hidup sedikitnya ada sembilan jenis tumbuhan air, serta 12 jenis ikan terdiri empat spesies, di antaranya bersifat endemik.

Di sisi lain, serangan eceng gondok menjadi pemicu cepatnya pendangkalan di danau tersebut.

Sumber : antaragorontalo.com

You might also like

Pemprov Gorontalo pilih pariwisata sebagai prioritas nasional

Dari banyaknya program yang diusulkan menjadi prioritas nasional tahun 2019, Pemprov Gorontalo memilih pariwisata sebagai satu dari delapan program prioritas pemerintah daerah. Dengan menjadi program prioritas, diharapkan sektor ini dapat

Menteri KLH Hadiri Perayaan Hut Ke-16 Gorontalo

Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI, Siti Nurbaya Bakar menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-16 Provinsi Gorontalo dengan sejumlah kegiatan di Gorontalo, Senin. Saat tiba di daerah tersebut, Siti

Gubernur Gorontalo Laporkan Perkembangan Proyek Strategis Nasional

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie (kanan) saat ikut rapat dengan Presiden Jokowi serta Mensesneg. (FOTO/Rosa Panggabean) Gubernur Gorontalo Rusli Habibie melaporkan perkembangan proyek-proyek strategis nasional di daerah itu di hadapan Presiden

Prof Zudan Kembali Dipercayakan Plt Gubernur Gorontalo

Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Zudan Arif Fakrulloh, kembali dipercayakan menjabat Pelaksana tugas (Plt) Gubernur Gorontalo. Zudan resmi dilantik sebagai Plt Gubernur Gorontalo sesuai Surat

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply