BKPRS melaksanakan Web Seminar (Webinar)“Pemulihan Pariwisata Sulawesi Masa Pandemi”

Pandemi covid-19 ini tidak semata-mata berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga sosial ekonomi masyarakat dan sektor lainnya.Pariwisata menjadi salah satu sektor ekonomi paling terdampak pandemi corona sejak mulai merebak Maret 2020 hingga saat ini. Anjloknya jumlah wisatawan membuat produk hasil budaya dan tingkat konsumsi di daerah-daerah wisata pun terjun bebas. Anggaran kementerian dan lembaga, termasuk bidang pariwisata, bahkan turun sekitar 50 persen.

Jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis, dan puncaknya terjadi April 2020 dengan jumlah wisatawan hanya sebanyak 158 ribu, sesuai dengan data yang di rangkum padayang diterbitkan oleh Kemenparekraf/Baparekraf.

Jika ditotal, sepanjang tahun 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 4,052 juta orang. Angka tersebut sangat memprihatinkan, karena dari total tersebut hanya sekitar 25% dari jumlah wisatawan yang masuk ke Indonesia pada 2019.

Dampak pandemi COVID-19 pada sektor pariwisata Indonesia juga terlihat dari pengurangan jam kerja. Sekitar 12,91 juta orang di sektor pariwisata mengalami pengurangan jam kerja, dan 939 ribu orang di sektor pariwisata untuk sementara tidak bekerja.

Di sisi lain, pandemi COVID-19 juga berdampak langsung pada berbagai lapangan pekerjaan di sektor pariwisata. Menurut data BPS 2020, sekitar 409 ribu tenaga kerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19

Kunci utama bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif agar dapat bertahan di tengah pandemi adalah memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik. Pasalnya, saat ini pelaku masyarakat mulai berubah, dan dibarengi dengan tren pariwisata yang telah bergeser.

Contoh paling simpelnya, sebelum pandemi kita bisa bebas liburan ke destinasi wisata di Indonesia maupun luar negeri. Namun, adanya pandemi menyebabkan tren pariwisata berubah, seperti liburan tanpa banyak bersentuhan dengan orang lain agar tetap aman, yaitustaycation.

Karena hotel cukup berdampak akibat pandemi, tentu sebagai pelaku industri perhotelan tidak bisa hanya mengandalkanstay action. Penyedia hotel juga harus mulai beradaptasi agar bisa bertahan, seperti menawarkan WFH (Work From Hotel), hingga dilengkapinya sertifikat CHSE dari Kemenparekraf/Baparekraf agar pengunjung merasa lebih aman saat berlibur.

Berbagai upaya dilakukan untuk menyelamatkan pariwisata Indonesia. Ada tiga fase “penyelamatan” yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), yaitu Tanggap Darurat, Pemulihan, dan Normalisasi.

Fase Tanggap Daruratdifokuskan pada kesehatan, seperti menginisiasi program perlindungan sosial, mendorong kreativitas dan produktivitas saat WFH, melakukan koordinasi krisis pariwisata dengan daerah pariwisata, serta melakukan persiapan pemulihan.

Selanjutnya adalah fase Pemulihan, di mana dilakukan pembukaan secara bertahap tempat wisata di Indonesia. Persiapannya sangat matang, mulai dari penerapan protokol CHSE (CleanlinessHealthySafety, and Environmental Sustainability) di tempat wisata, serta mendukung optimalisasi kegiatan MICE (MeetingIncentiveConvention, and Exhibition) di Indonesia.

Terakhir adalah fase Normalisasi, yaitu persiapan destinasi dengan protokol CHSE, meningkatkan minat pasar, hingga diskon untuk paket wisata dan MICE. Salah satu program yang telah dilaksanakan adalahVirtual Travel Fair sejak bulan Agustus-September 2020.

Keinginan liburan tanpa banyak bertemu orang lain pun mengubah tren layanan paket wisata. Para pelaku industri pariwisata harus mulai memberikan layanan paket wisata eksklusif ataumini group, agar wisatawan merasa lebih aman dan meminimalisir potensi penularan virus saat liburan.

Dari sisi destinasi wisata, banyak tempat wisata yang terpukul akibat pandemi COVID-19, bahkan ada yang terpaksa ditutup karena sepi pengunjung. Untuk itu, para pelaku pariwisata harus memanfaatkan inovasi teknologi yang berperan penting dalam mendukung tren pariwisata yang bergeser di tengah pandemi, salah satunya denganvirtual tourism untuk liburan online.

Sedangkan dari sisi destinasi wisata, banyak tempat wisata yang terpukul akibat pandemi COVID-19, bahkan ada yang terpaksa ditutup karena sepi pengunjung. Untuk itu, para pelaku pariwisata harus memanfaatkan inovasi teknologi yang berperan penting dalam mendukung tren pariwisata yang bergeser di tengah pandemi, salah satunya denganvirtual tourism untuk liburan online.

Untuk memulihkan sektor pariwisata di Indonesia termasuk di dalamnya  Sulawesi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif  telah melakukan langkah-langkah antara lain mempersiapkan buku pedoman sebagai panduan teknis berskala global yang mengacu pada tiga kata kunci yakni kebersihan, kesehatan, dan keamanan demi meningkatkan keyakinan dan kepercayaan diri (trust and confidence) sebagai landasan dalam percepatan pemulihan.

Selain itu, pemerintah juga melaksanakan edukasi, sosialisasi, dan simulasi sebagai persiapan awal memulai pariwisata kembali.

Secara umum, proses pemulihan ini akan memerlukan kerangka kebijakan yang kokoh dan kemitraan yang solid antarpemangku kepentingan pariwisata, dalam rangka menentukan pemulihan yang diinginkan dan mewujudkannya secara kolektif.

Dalam upaya memulihkan dan mengembangkan sektor pariwisata di Indonesia khususnyadi regional Sulawesi, BadanKerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) sebuah badan yang didirikan oleh Para Gubernur se SulawesimemandangperlumelaksanakanWebinar Regional Sulawesidengantema “PemulihanPariwisata SulawesiMasaPandemi”

  1. Tujuan

Adapun tujuan dari Diskusi/Webinar ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikangambaranmengenaikondisisektorpariwisatasecara nasional selamapandemi COVID-19
  2. Memahami Strategi Nasional Pemulihan Pariwisata di Masa Pandemi
  3. Mengeksplorasikebijakanserta model kemitraanantarsektorbaik yang sudahadamaupun yang potensialdilakukanuntukpemulihanekonomipariwisata.
  4. Mencari kerangka kebijakan yang kokoh dan kemitraan yang solid antar pemangku kepentingan pariwisata, dalam rangka menentukan pemulihan yang diinginkan dan mewujudkannya secara kolektif.
  5. Merekomendasikanstrategis yang relevandanpraktisuntukpemulihanpariwisata pasca-COVID-19 di Regional Sulawesi.

2. Materi

StrategiPercepatan PemulihanPariwisatadi Regional Sulawesi MasaPandemi

3. Narasumber

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI

4. Penanggap

 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan

 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara

 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tengah

 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Tenggara

 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Gorontalo

 Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat

5. Peserta

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi se Sulawesi

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota se Sulawesi

Pelaku Usaha Sektor Pariwisata di Sulawesi.

You might also like

BKPRS Mendorong Sulawesi sebagai Penyangga Pangan Nasional Melalui Seminar Regional

Sumber foto : BKPRS Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) gencar mendorong terlaksananya program pembangunan di wilayah Sulawesi melalui ajang diskusi ilmiah. Bertempat di Hotel The Rinra, Jalan HM Daeng

BKPRS Musyawarah Sulawesi di Palu

Kerjasama daerah merupakan sarana ideal yang dimaksudkan merekatkan dan memantapkan hubungan antar daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tujuannya yaitu, menyerasikan pembangunan daerah, menyinergikan potensi antar daerah dan

Temu wicara “dalam kerangka memperkuat kerjasama daerah, isu-isu strategis terkini dan program prioritas sulawesi selatan tahun 2018”

BKPRS hari ini  menyelenggarakan Temu wicara “Dalam kerangka memperkuat kerjasama daerah, isu-isu strategis terkini dan program prioritas sulawesi selatan tahun 2018” Makassar-Badan Kerjasama Pembangunan Regional Sulawesi (BKPRS) merupakan sebuah lembaga

Perkuat Kerja Sama, BKPRS Gelar Temu Wicara, Ini yang Dibahas

MAKASSAR – Badan Kerja Sama Regional Sulawesi (BKPRS) melaksanakan Temu Wicara dalam rangka Memperkuat Kerjasama, Isu-Isu Terkini dan Program Prioritas Sulwesi Selatan yang berlangsung di Hotel Swiss Bel-inn Panakkukang, Makassar,

BKPRS akan mengadakan rapat persiapan Sulawesi Infrastructure and Investment Forum di Hotel Remcy Makassar, tanggal 11 Juli 2019 dengan tema “Percepatan Pemerataan Pembangunan Infrastuktur di Sulawesi”

Pemerataan pembangunan merupakan sebuah langkah yang cukup besar untuk menuju pemerataan ekonomi. Dengan kemampuan ekonomi yang lebih baik, sebuah daerah maupun negara dapat menghidupi dirinya sendiri. Setelah tercapainya infrastruktur yang

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply